Menunggu kebangkitan industri otomotif Indonesia

menunggu kebangkitan industri otomotif indonesia

Jakarta (ANTARA) – PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) memprediksi dibutuhkan hingga tiga tahun agar industri otomotif tanah air bangkit kembali.

“Kita perlu waktu di atas dua tahun untuk bisa tumbuh kembali atau paling tidak tiga tahun lagi lah,” ungkap Presiden Direktur Adira Finance, Hafid Hadeli dalam konferensi pers lewat video, Selasa.

Baca juga: Pasar otomotif nasional diperkirakan pulih 2023

Data Gaikindo mencatat pertumbuhan industri otomotif saat ini mencapai 20-25 persen, di mana kendaraan roda dua masih memegang peran yang baik dibandingkan dengan roda empat.

“Kami melihat adanya perkembangan 20-25 persen, motor lebih baik daripada mobil. Meski begitu, menurut saya itu masih agak rendah, Indonesia masih tertinggal recover-nya,” kata dia.

Dalam hal ini, perlambatan ekonomi Indonesia terus berlanjut hingga pada kuartal III-2020, akibat dari penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang disebabkan pandemi Covid-19. Hal ini berdampak kurang baik terhadap lapangan kerja dan daya beli konsumen.

Menurut data, penjualan industri mobil baru ritel tercatat turun sebesar 46 persen year on year menjadi 407 ribu unit di bulan sembilan. Secara keseluruhan penurunan terbesar didominasi segmen mobil baru penumpang sebesar 48 persen y/y menjadi 304 ribu unit, diikuti segmen mobil baru komersial turun 41 persen year on year menjadi 103 ribu unit.

Sementara itu, penjualan industri sepeda motor baru ritel mencatatkan penurunan sebesar 40 persen menjadi 2,9 juta unit di sepanjang Januari hingga September 2020.

Penyaluran pembiayaan baru perusahaan tercatat sejumlah Rp13,3 triliun hingga akhir September 2020 atau turun sebesar 53 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.

“Penurunan penyaluran pembiayaan baru ini sejalan dengan lemahnya kinerja penjualan industri otomotif akibat kontraksi ekonomi dalam enam bulan terakhir. Dengan demikian total piutang yang dikelola kami mengalami penurunan sebesar 14 persen year on year menjadi Rp46,1 triliun hingga akhir September 2020,” kata dia.

Sebelumnya, pelaku industri otomotif di dalam negeri memprediksi pasar otomotif pulih pada 2023.

Dia memperkirakan, penjualan tahun 2021 bahkan tak akan mampu menyaingi penjualan tahun 2019.

“Kehadiran vaksin juga belum tentu menjadikan aktivitas normal menumbuhkan penjualan seperti yang sebelumnya… , menurut hitungan-hitungan kami akan terjadi pada sekitar tahun 2023,” kata Direktur Pemasaran PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Amelia Tjandra.

Berbagai cara dilakukan untuk menggerakkan kembali lesunya penjualan di tengah pandemi virus corona, COVID-19.

Salah satu pelaku industri otomotif, misalnya  PT Astra Diahtsu Motor (ADM) mengandalkan penjualan lewat digital.

“Kuncinya di digital, karena kita tidak bisa bertemu secara langsung dengan konsumen akhirnya kita melakukan semuanya melalui digital,” kata Marketing and CR Division Head AI-DSO, Hendrayadi Lastiyoso.

Baca juga: Pacu industri otomotif, Menperin lihat peluang modifikasi kendaraan

Baca juga: Kemenkeu tidak berencana terapkan pajak nol persen untuk mobil baru
 


penyaluran pembiayaan
Sampai saat ini, Adira Finance sudah menyalurkan pembiayaan baru sepeda motor sebesar Rp6 triliun yang terdiri dari pembiayaan untuk sepeda motor baru
sejumlah Rp4,9 triliun dan sepeda motor bekas sebesar Rp1,1 triliun hingga akhir September 2020.

Sedangkan untuk penyaluran pembiayaan mobil sebesar 4,9 triliun yang terdiri dari pembiayaan mobil baru sebesar Rp2,9 triliun dan Rp2 triliun adalah pembiayaan mobil bekas. Sementara itu penyaluran pembiayaan non-otomotif tercatat sebesar Rp2,4 triliun hingga akhir September 2020.

Di sepanjang sembilan bulan terakhir, AdiraFinance telah membukukan pendapatan bunga sebesar Rp8,5 triliun atau turun sebesar 5,2 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.

Sementara itu, beban bunga juga tercatat turun sebesar 4,6 persen year on year menjadi Rp3,4 triliun. Sehingga pendapatan bunga bersih Adira Finance sebesar Rp5,1 triliun, turun 5,6 persen year on year dan margin bunga bersih Adira Finance tercatat sebesar 13,1 persen di 2020. Perusahaan telah menurunkan biaya beban operasional sebesar 1,1 persen menjadi Rp 2,7 triliun.

Di samping itu, biaya kredit, cost of credit mengalami kenaikan sebesar 6,9 persen year on year dan beban lain-lain meningkat akibat adanya biaya kerugian atas restrukturisasi kredit sebesar Rp385 miliar hingga akhir September 2020.

Dengan demikian Adira Finance mencatatkan laba bersih sebesar Rp814 miliar atau turun sebesar 42,6 persen dibandingkan periode sama tahun 2019. rasio ROA dan ROE masing-masing tercatat sebesar 3,3 persen dan 14,3 persen.

“Dalam menghadapi tantangan di masa pandemi Covid-19 ini, Perusahaan telah menyiapkan strategi-strategi utama agar dapat terus melayani konsumen seperti memastikan kegiatan operasional perusahaan berjalan dengan baik, memberikan program restrukturisasi kredit kepada konsumen yang terkena dampak langsung Covid- 19,” kata dia.

“Mendorong program penjualan dengan menetapkan program pemasaran yang menarik bagi konsumen dan Perusahaan menjaga kualitas aset melalui praktik kehati-hatian dalam menyalurkan pembiayaan baru dan memperkuat aktivitas collection, serta menjaga likuiditas secara efektif,” tambah dia.

Sehingga agar dapat mendorong kinerja penjualan, Adira Finance telah melakukan inisiatif dengan mengadakan program penjualan yang menarik seperti “Sobat, Tepat Mantap, Adirapoin, dan Undian Seru Adiraku” untuk meningkatkan penjualan.

Di samping itu, Perusahaan juga terus melakukan inovasi dalam meningkatkan saluran distribusi dengan mengoptimalkan berbagai media digital, platform online, dan pameran virtual sebagai kanal pemasaran dan distribusi Perusahaan.

Di sepanjang sembilan bulan terakhir Adira Finance telah membukukan pendapatan bunga sebesar Rp8,5 triliun atau turun sebesar 5,2 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Sementara itu, beban bunga juga tercatat turun sebesar 4,6 persen year on year menjadi Rp3,4 triliun.

Sehingga pendapatan bunga bersih Adira Finance sebesar Rp5,1 triliun, turun 5,6 persen year on year dan margin bunga bersih Adira Finance tercatat sebesar 13,1 persen di 2020. Perusahaan telah menurunkan biaya beban operasional sebesar 1,1 persen menjadi Rp2,7 triliun.

Baca juga: Suzuki: Industri otomotif Indonesia masuki periode “recovery”

Baca juga: Dongkrak daya beli, Menperin usulkan pajak mobil baru 0 persen

Baca juga: Kemenkeu tidak berencana terapkan pajak nol persen untuk mobil baru

Pewarta: KR-CHA
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2020

Leave a Reply